Lumajang, Satu Detik – Bupati Lumajang, Ir. Indah Amperawati, M.Si, menyoroti tingginya angka putus sekolah di Kecamatan Pasirian, Candipuro, dan Randuagung. Hal itu disampaikan saat melaksanakan program Sehari Ngantor di Kecamatan Terpadu (Setor Madu) di Kecamatan Pasirian, Rabu (24/9/2025).
Menurut Bunda Indah, sapaan akrabnya, banyak anak usia sekolah yang memilih bekerja, terutama di sektor tambang pasir dan perkebunan, dibanding melanjutkan pendidikan.
“Fenomena ini cukup menggelitik. Mereka tergiur dengan upah harian di tambang pasir yang bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan perlunya keterlibatan semua pihak, terutama orang tua, untuk mencegah anak-anak berhenti sekolah.
“Jangan biarkan anak-anak terlena dengan pekerjaan. Pendidikan itu sangat penting untuk masa depan. Kalau tidak sekolah formal, bisa mondok di pesantren. Intinya harus tetap mendapat pendidikan di mana pun,” tegasnya.
Bunda Indah juga menduga tingginya angka putus sekolah berkaitan erat dengan praktik pernikahan dini. Pemerintah bersama para pemangku kepentingan terus berupaya memberikan pemahaman terkait risiko yang ditimbulkan.
“Kalau putus sekolahnya karena tidak mampu membiayai, kita bantu. Baik biaya sekolah, perlengkapan, maupun seragam. Kalau ada yang seperti itu, segera laporkan ke camat atau WA saya langsung, biar bisa kita bantu,” tambahnya.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang, tercatat sekitar 1.739 anak putus sekolah. Rinciannya, 382 anak berhenti di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan 1.347 anak di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sebagai bentuk motivasi, Bunda Indah juga rutin membagikan sepatu gratis di setiap kunjungan.
“Dalam sehari ada sekitar 60 pasang sepatu yang saya bagikan. Kalau melihat siswa sepatunya rusak atau jebol, pasti langsung saya ganti,” pungkasnya. (hari)
Penulis : Hariyanto
Editor : Mujibul Choir

















