Lumajang, Satu Detik – Batik memang menyimpan segudang potensi besar untuk dikembangkan dari berbagai sektor bidang, khususnya di Kabupaten Lumajang.
Seperti wisata edukasi, wisata belanja batik, sampai budaya dan lain-lain sebagainya.
Di sisi lain ternyata potensi itu justru berbanding terbalik bagi kesejahteraan perajin batik khas Lumajangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Agus, salahsatu pembatik asal Pasirian mengaku jika dirinya lebih banyak menggantungkan hidup dari hasil kegiatan di ladangnya.
Karena hasil dari batik yang digelutinya selama ini jauh dari kata cukup, untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Daya beli masyarakat sejak dilanda pandemi Covid-19 terus anjlok hingga saat ini. Ditambah lagi kesan batik yang harganya cukup mahal, yang hanya diminati kalangan ekonomi menengah ke atas.
“Batik memang tidak akan mati, karena terus dicari orang. Tapi untuk hidup masih sulit,” ungkap Agus
Untuk mendongkrak itu, satu-satunya harapan adalah melalui kebijakan pemerintah. Supaya semua orang bisa mengenakan batik. Utamanya warga Indonesia.
“Biar bagaimana pun, saya terus membatik sampai batik mati atau saya yang mati lebih dulu,” ucapnya dengan semangat.
Baginya, batik bukan sekedar untuk mencari penghidupan. Melainkan sebagai nafas sekaligus warisan.
Walaupun pada kenyataannya, tidak seperti apa yang diharapkan. Ditambah lagi dengan gempuran modernisasi yang mampu menghasilkan kain bermotif batik lebih bagus.
Meski lebih bagus, namun jika tanpa melalui proses yang rumit, kain tersebut tidak bisa disebut batik.
Karena batik merupakan hasil perwujudan rasa, yang ditumpahkan pada setiap goresan canting hingga menjadi sebuah karya unik dan khas.
“Namanya karya seni, pasti melalui perjuangan keras sampai jadi batik. Kain printing itu kan bukan batik meskipun memiliki pola yang sama,” tegasnya.
Ia menilai jika pemuda sekarang lebih cenderung dengan batik ecoprint. Hal itu membuat keberadaan batik tulis makin pudar, karena minimnya regenerasi.
“Pembatik sekarang kebanyakan hanya meneruskan warisan orang tuanya, bukan karena ingin melestarikan budaya. Karena batik kan perlu rasa, kalau tidak punya rasa mana mungkin mau menghabiskan waktu dengan canting,” tandasnya. (mrus)
Penulis : muachrus
Editor : Mujibul Choir

















