Lumajang, Satu Detik – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, menegaskan bahwa masalah utama penanganan erupsi Gunung Semeru di Lumajang kali ini, yakni masih adanya warga yang tinggal di zona merah bahaya.
Hal itu ia soroti saat meninjau Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Suharyanto mengingatkan, Semeru telah menunjukkan siklus erupsi berulang, sejak tahun 2020 hingga 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Erupsi terakhir pada. Rabu (19/11/2025) lalu, menyebabkan kerusakan parah. Khususnya di Dusun Sumbersari dan Gumukmas Desa Supiturang.
Ia menekankan, warga yang paling terdampak merupakan kelompok yang menolak relokasi pada tahun 2021.
”Mereka kembali ke zona rawan karena alasan jarak dan kebutuhan mencari nafkah. Ini adalah dilema yang harus segera diselesaikan,” ujar Suharyanto pada Selasa (25/11/2025).
BNPB kini menyiapkan skema relokasi baru untuk menjawab penolakan warga untuk pindah.
Relokasi akan dilakukan ke lokasi yang aman, namun tetap berdekatan dengan Dusun Sumbersari dan Gumukmas.
”Ini adalah solusi yang disesuaikan dengan permintaan masyarakat. Tujuannya untuk melindungi keselamatan warga dari ancaman erupsi di masa depan,” jelasnya.
Selain fokus relokasi, sekaligus memastikan perpanjangan masa tanggap darurat selama sepekan berjalan efektif, termasuk penanganan paska erupsi.
”Saat siang, warga berupaya menyelamatkan barang, dan malamnya mereka kembali ke pengungsian demi keamanan,” tambahnya.
BNPB berkomitmen penuh berkoordinasi dengan pemda dan semua unsur terkait untuk memastikan penanganan pasca-erupsi berjalan sesuai amanat Presiden Prabowo Subianto.(mrus)
Lumajang, Satu Detik – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, menegaskan bahwa masalah utama penanganan erupsi Gunung Semeru di Lumajang kali ini, yakni masih adanya warga yang tinggal di zona merah bahaya.
Hal itu ia soroti saat meninjau Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Suharyanto mengingatkan, Semeru telah menunjukkan siklus erupsi berulang, sejak tahun 2020 hingga 2025.
Erupsi terakhir pada. Rabu (19/11/2025) lalu, menyebabkan kerusakan parah. Khususnya di Dusun Sumbersari dan Gumukmas Desa Supiturang.
Ia menekankan, warga yang paling terdampak merupakan kelompok yang menolak relokasi pada tahun 2021.
”Mereka kembali ke zona rawan karena alasan jarak dan kebutuhan mencari nafkah. Ini adalah dilema yang harus segera diselesaikan,” ujar Suharyanto pada Selasa (25/11/2025).
BNPB kini menyiapkan skema relokasi baru untuk menjawab penolakan warga untuk pindah.
Relokasi akan dilakukan ke lokasi yang aman, namun tetap berdekatan dengan Dusun Sumbersari dan Gumukmas.
”Ini adalah solusi yang disesuaikan dengan permintaan masyarakat. Tujuannya untuk melindungi keselamatan warga dari ancaman erupsi di masa depan,” jelasnya.
Selain fokus relokasi, sekaligus memastikan perpanjangan masa tanggap darurat selama sepekan berjalan efektif, termasuk penanganan paska erupsi.
”Saat siang, warga berupaya menyelamatkan barang, dan malamnya mereka kembali ke pengungsian demi keamanan,” tambahnya.
BNPB berkomitmen penuh berkoordinasi dengan pemda dan semua unsur terkait untuk memastikan penanganan pasca-erupsi berjalan sesuai amanat Presiden Prabowo Subianto.(mrus)
Penulis : muachrus
Editor : Mujibul Choir

















