Modernisasi Pertanian Lumajang Beralih ke Reformasi Sistem Produksi

- Penulis Berita

Monday, 6 April 2026 - 17:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Lumajang Ir. Hj. Indah Amperawati, M.Si

Bupati Lumajang Ir. Hj. Indah Amperawati, M.Si

Lumajang, Satu Detik – Modernisasi pertanian di Kabupaten Lumajang memasuki fase yang lebih substantif.

Pemerintah daerah tidak lagi menempatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) sebagai output program semata, melainkan sebagai instrumen untuk mendorong perubahan struktural dalam sistem produksi.

Penyerahan dua unit combine harvester dan satu unit drone pertanian kepada Brigade Pangan menjadi penanda arah transformasi tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah ini dinilai tidak lagi bersifat parsial, tetapi menyasar efisiensi dari hulu hingga hilir melalui pemanfaatan teknologi sebagai pengungkit produktivitas sekaligus pengendali biaya.

Bupati Lumajang yang akrab disapa dengan sebutan Bunda Indah ini menegaskan bahwa modernisasi harus mampu menjawab persoalan klasik sektor pertanian, seperti tingginya kehilangan hasil, rendahnya efisiensi tenaga kerja, serta ketergantungan pada pola budidaya konvensional yang kian tidak adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar.

“Modernisasi tidak boleh berhenti pada distribusi alat, tetapi harus memastikan perubahan nyata pada sistem produksi dan peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Bunda Indah saat menyerahkan alsintan kepada Brigade Pangan di halaman Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang, Senin (6/4/2026).

Pemanfaatan combine harvester dinilai mampu mempercepat proses panen sekaligus menekan kehilangan hasil pascapanen (post-harvest loss) yang selama ini menjadi salah satu titik lemah dalam rantai produksi.

Dengan demikian, peningkatan produksi tidak semata bergantung pada perluasan lahan, melainkan optimalisasi hasil yang sudah ada.

Adapun penggunaan drone pertanian memperkenalkan pendekatan berbasis presisi dalam budidaya. Aplikasi pupuk dan pestisida dilakukan secara lebih terukur sesuai kondisi lahan, sehingga tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya, tetapi juga mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Meski demikian, modernisasi berbasis teknologi menuntut peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Tanpa literasi teknologi yang memadai, alsintan berpotensi menjadi aset pasif yang tidak memberikan nilai tambah bagi petani.

“Yang kita bangun bukan sekadar alat, tetapi ekosistem, mulai dari SDM, kelembagaan, hingga tata kelola agar teknologi benar-benar memberikan dampak ekonomi,” kata Bunda Indah.

Penguatan kelembagaan menjadi aspek krusial dalam transformasi ini. Brigade Pangan didorong tidak hanya berperan sebagai pengguna alat, tetapi juga sebagai pengelola sistem, mulai dari pengaturan jadwal penggunaan, perawatan, hingga penyusunan skema pembiayaan operasional yang berkelanjutan.
.
Transformasi ini juga mencerminkan perubahan paradigma dalam sektor pertanian, dari berbasis tenaga kerja menuju berbasis manajemen.

Petani diharapkan berperan sebagai pengambil keputusan yang didukung data dan teknologi.
.
Integrasi kebijakan turut menjadi faktor penentu. Modernisasi alsintan perlu diiringi penguatan akses pembiayaan, jaminan pasar, serta dukungan infrastruktur agar efisiensi di tingkat produksi dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani.

Dengan kontribusi sektor pertanian sekitar 32 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB), langkah ini dinilai memiliki dampak luas terhadap struktur ekonomi daerah, termasuk dalam menjaga stabilitas harga pangan dan memperkuat ketahanan ekonomi lokal.

Di sisi lain, modernisasi membuka peluang regenerasi petani. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk terlibat dalam sektor pertanian yang lebih modern dan produktif.

Namun, sejumlah tantangan tetap mengemuka, seperti potensi ketimpangan akses teknologi, risiko ketergantungan pada alat, serta kesiapan ekosistem pendukung.

Pemerintah daerah menilai, keberhasilan modernisasi tidak diukur dari jumlah alsintan yang disalurkan, melainkan dari perubahan nyata pada sistem produksi yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, alsintan diposisikan sebagai pintu masuk menuju pembentukan sistem pertanian yang terintegrasi dan berorientasi masa depan di Kabupaten Lumajang.(Har)

Facebook Comments Box

Penulis : Hariyanto

Editor : Mujibul Choir

Berita Terkait

Bupati Lumajang Geram LPG 3 Kg Langka Tiga Pekan, Harga Tembus Rp35.000
Dandim Lumajang Instruksikan Respons Cepat Temuan Distribusi LPG 3 Kg
Wabup Lumajang Tekankan Percepatan Perbaikan Distribusi LPG 3 Kg
Ketua DPRD Lumajang Tekankan Penanganan Menyeluruh Distribusi LPG 3 Kg
Masyarakat Tak Perlu Panik, Pertamina Tambah 18 Ribu Tabung LPG 3 Kg di Lumajang
Pemkab Lumajang Perkuat Pengawasan Distribusi LPG 3 Kg Libatkan Wilayah dan Masyarakat
Pemkab Lumajang Wajibkan Pengecer LPG 3 Kg Miliki NIB
Pemkab Lumajang Batasi Penggunaan LPG 3 Kg Bersubsidi untuk Jaga Ketepatan Sasaran

Berita Terkait

Thursday, 9 April 2026 - 21:43 WIB

Bupati Lumajang Geram LPG 3 Kg Langka Tiga Pekan, Harga Tembus Rp35.000

Thursday, 9 April 2026 - 21:37 WIB

Dandim Lumajang Instruksikan Respons Cepat Temuan Distribusi LPG 3 Kg

Thursday, 9 April 2026 - 21:30 WIB

Wabup Lumajang Tekankan Percepatan Perbaikan Distribusi LPG 3 Kg

Thursday, 9 April 2026 - 21:26 WIB

Ketua DPRD Lumajang Tekankan Penanganan Menyeluruh Distribusi LPG 3 Kg

Wednesday, 8 April 2026 - 20:16 WIB

Masyarakat Tak Perlu Panik, Pertamina Tambah 18 Ribu Tabung LPG 3 Kg di Lumajang

Wednesday, 8 April 2026 - 18:36 WIB

Pemkab Lumajang Wajibkan Pengecer LPG 3 Kg Miliki NIB

Wednesday, 8 April 2026 - 18:31 WIB

Pemkab Lumajang Batasi Penggunaan LPG 3 Kg Bersubsidi untuk Jaga Ketepatan Sasaran

Wednesday, 8 April 2026 - 15:11 WIB

Kelangkaan LPG 3 Kg di Lumajang Meluas, Warga Desa Hingga Kota Mengeluh Berharap Pemerintah Bertindak

Berita Terbaru