Lumajang, Satu Detik – Isu ketahanan pangan kembali menjadi sorotan dalam program dialog interaktif Dewan Mendengar yang digelar oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lumajang di salah satu radio ternama di Kabupaten Lumajang, Senin (6/4/2026).
Mengangkat tema “Desa dan Ketahanan Pangan”, forum ini menyoroti peran strategis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai penggerak ekonomi sekaligus penopang ketersediaan pangan di tingkat lokal.
Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Komisi A DPRD Lumajang, Reza Hadi Kurniawan, mengungkapkan bahwa kontribusi BUMDes dalam mendukung ketahanan pangan masih belum maksimal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai banyak desa masih terjebak pada pola pengembangan yang seragam tanpa mempertimbangkan potensi dan karakteristik wilayah masing-masing.
“Banyak desa cenderung meniru program desa lain tanpa melihat kebutuhan dan kekuatan lokalnya. Akibatnya, program tidak berjalan optimal dan sulit berkembang,” ujarnya.
Menurut Reza, pendekatan copy-paste dalam pengelolaan BUMDes justru menghambat inovasi dan daya saing desa. Padahal, setiap desa memiliki keunikan sumber daya, baik dari sektor pertanian, peternakan, hingga produk olahan pangan yang bisa dikembangkan secara mandiri dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa persoalan legalitas juga masih menjadi kendala serius. Hingga saat ini, baru sekitar 50 persen BUMDes di Lumajang yang telah memiliki badan hukum resmi.
Kondisi ini berdampak pada terbatasnya akses permodalan, kemitraan, serta pengembangan usaha yang lebih luas.
“Legalitas sangat penting agar BUMDes bisa berkembang secara profesional. Tanpa itu, sulit bagi mereka untuk menjalin kerja sama atau mendapatkan dukungan pembiayaan,” jelasnya.
Selain aspek kelembagaan, Reza juga menyoroti perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola BUMDes.
Ia menilai, banyak pengurus BUMDes yang masih membutuhkan pelatihan dalam hal manajemen usaha, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Dalam konteks ketahanan pangan, BUMDes dinilai memiliki peran vital sebagai agregator produksi lokal.
Melalui pengelolaan yang tepat, BUMDes dapat membantu petani dalam distribusi hasil panen, stabilisasi harga, hingga pengolahan produk agar memiliki nilai tambah.
Dialog ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, DPRD, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem ekonomi desa yang kuat.
Inovasi berbasis potensi lokal, seperti pengembangan lumbung pangan desa, usaha pengolahan hasil tani, hingga distribusi berbasis komunitas, dinilai dapat menjadi solusi konkret dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan ke depan.
Menutup pemaparannya, Reza berharap BUMDes tidak hanya menjadi pelengkap administrasi desa, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.(Yon)
Penulis : Yoni Kristianto
Editor : Mujibul Choir

















