Lumajang, Satu Detik – Kinerja pariwisata Kabupaten Lumajang menunjukkan tren akseleratif pada awal 2026. Pemerintah daerah mencatat Lumajang menempati peringkat pertama sebagai tujuan wisatawan mancanegara (wisman) di Jawa Timur, mengungguli Surabaya, Malang, Banyuwangi, dan Bondowoso.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyebut capaian tersebut sebagai indikator awal keberhasilan arah pengembangan sektor pariwisata.
“Capaian ini kami maknai sebagai indikator bahwa arah pengembangan pariwisata Lumajang mulai menunjukkan hasil yang terukur,” ujar bupati yang akrab disapa dengan sebutan Bumda Indah ini dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, capaian tersebut tidak sekadar peringkat, melainkan mencerminkan pergeseran peran pariwisata dari sektor pelengkap menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah berbasis potensi lokal.
“Pariwisata tidak berdiri sendiri. Ia terhubung langsung dengan ekonomi masyarakat, terutama sektor usaha kecil dan layanan lokal,” katanya.
Penguatan posisi itu ditopang kinerja sejumlah destinasi unggulan. Air Terjun Tumpak Sewu di kawasan Gunung Semeru tercatat sebagai destinasi dengan kunjungan wisman tertinggi di Jawa Timur.
Sementara Teras Semeru turut memperkuat citra Lumajang sebagai destinasi wisata alam.
Data Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang mencatat total kunjungan wisatawan pada triwulan I 2026 mencapai 476.062 orang, melampaui target 450.000 kunjungan.
Dari jumlah tersebut, wisatawan nusantara (wisnus) mendominasi sebanyak 460.036 kunjungan, sedangkan wisman mencapai 16.026 kunjungan.
Bunda Indah menilai dominasi wisnus menunjukkan kuatnya pasar domestik, sementara peningkatan jumlah wisman menjadi sinyal mulai terbukanya pasar internasional secara konsisten.
“Kita melihat adanya tren positif pada kunjungan wisman, meskipun skalanya masih perlu diperkuat secara bertahap,” ujarnya.
Secara bulanan, kunjungan wisatawan menunjukkan tren meningkat. Januari tercatat 132.244 kunjungan, Februari 60.992 kunjungan, dan melonjak pada Maret menjadi 282.826 kunjungan.
“Lonjakan ini menunjukkan bahwa promosi dan momentum kunjungan mulai selaras, meski tetap perlu dijaga kesinambungannya,” katanya.
Dari sisi destinasi, Pantai Watu Pecak mencatat kunjungan tertinggi dengan 103.075 wisatawan, disusul Tumpak Selo sebanyak 95.305 kunjungan.
Sementara Pemandian Alam Selokambang dan Pemandian Alam Tirtosari masing-masing mencatat 45.871 dan 38.484 kunjungan.
Meski total kunjungan ke Tumpak Sewu mencapai 25.821, destinasi tersebut menjadi kontributor utama wisman dengan 15.908 kunjungan internasional.
“Kontribusi wisman masih terkonsentrasi pada destinasi tertentu. Ini menjadi ruang evaluasi untuk memperluas sebaran kunjungan,” ujarnya.
Dampak peningkatan kunjungan mulai dirasakan pelaku wisata lokal. Dedi, pemandu wisata di kawasan Tumpak Sewu, mengaku frekuensi kunjungan wisatawan asing kini lebih rutin.
“Dulu tamu asing belum tentu ada setiap hari. Sekarang mulai rutin datang, terutama ke Tumpak Sewu. Kami pelan-pelan belajar, dari bahasa sampai cara melayani,” kata Dedi.
Fenomena serupa terlihat di Air Terjun Kapas Biru yang mulai menarik minat wisatawan mancanegara. Namun, sejumlah destinasi lain seperti Ranu Pani dan Ranu Regulo dinilai belum beroperasi optimal.
Bunda Indah menegaskan pentingnya pemerataan pengembangan destinasi agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Pergerakan ekonomi lokal mulai terlihat, meskipun masih perlu diperkuat dari sisi kualitas layanan dan kapasitas pelaku usaha,” ujarnya.
Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga mulai merasakan dampaknya. Irma, salah satu pelaku UMKM, menyebut peningkatan kunjungan wisata ikut menggerakkan usahanya.
“Kalau wisatawan ramai, dagangan ikut bergerak. Tidak selalu besar, tapi terasa. Yang penting usaha tetap jalan dan bisa membantu ekonomi keluarga,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Lumajang, lanjut Indah, membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan sektor pariwisata.
“Keberlanjutan menjadi kunci. Pertumbuhan harus berjalan seimbang dengan pelestarian,” ujar Indah.(Har)
Penulis : Hariyanto
Editor : Teguh Ekaja
















