Lumajang, Satu Detik – Pemerintah Kabupaten Lumajang memperkuat upaya melawan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan membangun kolaborasi lintas sektor dan lintas wilayah.
Dalam Sosialisasi Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan TPPO di Hall Vision Vista, Kamis (7/8/2025), Bupati Lumajang Indah Amperawati menegaskan bahwa TPPO merupakan kejahatan terorganisir yang menembus batas administratif dan menyasar kelompok rentan.
“TPPO adalah kejahatan sistemik. Kita tidak bisa melawannya dengan cara biasa. Diperlukan kecepatan informasi, kekompakan antarwilayah, dan kesigapan dalam bertindak,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini mempertemukan perwakilan dari 13 polres dan polresta se-Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, Malang, Jember, Probolinggo, dan Banyuwangi. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi titik awal untuk membangun sistem komando yang tanggap menghadapi pola kejahatan lintas daerah.
Sejak 2022, Lumajang memiliki Gugus Tugas TPPO berdasarkan SK Bupati Nomor 188.45/522/427.12/2022. Gugus tugas ini berperan mencegah, menindak, dan melindungi korban, dengan melibatkan penegak hukum, perangkat desa, Dinas Tenaga Kerja, hingga aparat imigrasi.
Data Pemkab Lumajang menunjukkan, 17 korban berasal dari Kecamatan Kunir, delapan dari Kecamatan Lumajang, dan sekitar 200 dari Kecamatan Pasirian. Mayoritas korban dieksploitasi sebagai tenaga kerja melalui modus penipuan dan rekrutmen ilegal.
“Angka itu bukan sekadar statistik. Itu wajah-wajah anak bangsa yang gagal kita jaga. Lumajang harus bersikap sebagai wilayah siaga, bukan titik transit,” kata Indah.
Sebagai langkah inovatif, Pemkab Lumajang mengembangkan aplikasi SIAPkerja dan Siskop2mi untuk memfasilitasi jalur kerja luar negeri yang legal, aman, dan transparan. Hingga kini, lebih dari 1.100 warga telah memanfaatkannya.
Meski begitu, Bupati menilai koordinasi masih lemah, terutama terkait interoperabilitas data, sistem peringatan dini, dan peran desa dalam pencegahan.
“Forum ini jangan berhenti di retorika. Sistem perlindungan warga harus integratif. Jika wilayah bekerja sendiri-sendiri, sindikat akan selalu satu langkah di depan,” tegasnya.
Ia menutup dengan ajakan memperkuat solidaritas antarwilayah sebagai pagar hidup melawan perdagangan manusia.
“Jangan biarkan satu orang pun menjadi korban karena kelambanan kita membaca ancaman,” pungkasnya. (Har)
Penulis : Hariyanto
Editor : Mujibul Choir
















